Rabu, 28 Desember 2016

UPGRIS BERSASTRA

UPGRIS Bersastra

UPGRIS bersastra baru saja digelar di Balairung Universitas PGRI Semarang pada Rabu, 19 Oktober 2016. Acara yang diadakan untuk memeriahkan bulan bahasa tersebut dihadiri oleh Rektor Universitas PGRI Semarang, Wakil Rektor 1 dan Wakil Rektor 2 Universitas PGRI Semarang serta para dosen dan mahasiswa khususnya mahasiswa FPBS. Acara yang sangat meriah tersebut bertajuk 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, 1 pengarang.
Triyanto adalah sastrawan yang dipilih untuk dibedah karyanya pada UPGRIS bersastra siang itu. Triyanto merupakan salah satu penulis yang terkenal di kalangan para sastrawan. “Sudah Susah”, “Anak-anak Pengasah Pisau” dan “Kematian Kecil” merupakan beberapa karya dari Triyanto.
Tiga kritikus didatangkan untuk membedah karya dari Triyanto tersebut, yakni  Nur Hidayat, Prasetyo Utomo, serta Widya  Wari Eko. Salah satu pembaca karya Triyanto adalah rektor Universitas PGRI Semarang yang membacakan puisi dengan sangat mengagumkan. Sebelum sang rektor membacakan puisi terlebih daahulu rektor membawakan sebuah lagu dengan bermain getar dengan sangat mengagumkn pula. Puisi kedua dibacakan oleh wakil rektor Ibu Suci dengan diselingi tembang jawa yang dibawakan oleh mahasiswi PBI. Ibu Suci membacakan puisi dan mahasiswa mengiringi dengan tembang macapat yang lirih.
Acara dibuka dibuka dengan penampilan dari Biscuit Time dengan membawakan musikalisasi puisi yang dapat menghipnotis penonton. Pada acara tersebut juga mempersembahkan sebuah teatrikal yang dibawakan oles salah satu dosen Universitas PGRI Semarang dan 4 penari yang membawakan puisi “sawah” dari Triyanto.
Acara inti bedah buku pada siang itu dipimpin oleh Bapak Harjito yang notabenya juga seorang yang gemar menulis juga. Setelah ketiga karya Triyanto dibacakan giliran ketiga kritikus untuk menyampaikan pendapatnya tentang tulisan Triyanto. Kritikus pertama Nur Hidayat mengatakan jika Triyanto menulis karya sastra tetapi tidak di baca oleh orang lain itu tidak masalah. Namun dia dapat membuktikan kualitasnya.kritikus kedua Prasetyo Utomo mengatakan bahwa cerpen yang ditulis oleh Triyanto setiap tahunnya masuk dalam koran kompas. Selain itu cerpen Triyanto ada juga yang sulit untuk dipahami seperti pada Teori Struktuslisme, cerpen serupa dengan islami yang memiliki tiga unsur yaitu Tok, Latar, Alur. Kritikus terakhir Widya Wri Eko menyampaikan pendapatnya dengan memamerkan beberapa karangan Triyanto yang sukses yaitu “Sudah Susah”, “Anak-anak Pengasah Pisau”, dan “Kematian Keci”.
Dengan adanya UPGRIS Bersastra tersebut semoga dapat memberi motivasi kepada para mahasiswa agar mau untuk mengeluarkan idenya dengan menulis dan mau membaca karya-karya sastra untuk menambah wawasan. Karena seperti yang kita ketahui minat membaca bagi para siswa maupun mahasiswa saat ini sangat kurang. Mungkin hanya ada beberapa anak di dalam satu kelas yang mempunyai hobi membaca. Banyak siswa atau mahasiswa yang beranggapan bahwa membaca tidak terlalu penting, karena tidak banyak memberi pengaruh untuk mereka. Saat ini banyak siswa atau mahasiswa yang lebih meimlih untuk menggunakan gadget mereka untuk browsing daripada membaca buku, karena menganggap hal tersebut lebih mudah dan cepat daripada harus membeli atau meminjam biku di perpustakaan.
Saat ini banyak siswa maupun mahasiswa yang lebih suka menulis caption di instagram atau status di facebooknya, daripada harus menyalurkan idenya lewat tulisan melalui karya sastra tersebut. Banyak mahasiswa yang saat ini yang masih malas untuk berpiki, mereka lebih suka mencari kata-kata dari internet dari pada harus menyalurkan kata-katanya sendiri melalui tulisan.
Seperti yang dikatakan Triyanto jika Jalan kesusastraan bukan jalan mewah. Kita semua harus berlomba - lomba untuk menulis kebaikan manusia. Jadi mereka bisa dikatakan jika setiap kali kita mepunyai ide harus segera kita keluarkan dengan kata-kata untuk dijadikan menjadi sebuah karya sastra. Kita juga dapat menuliskan, menceritakan semua hal yang telah kita alami maupun yang telah dialami orang lain. Selain bisa menjadi sebuah karya sastra yang baik dan  dapat dibaca oleh banyak orang tulisan kita juga bisa menjadi alat untuk mendokumentasikan cerita setiap orang.
Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan kesadaran diri dari siswa maupun mahasiswa itu sendiri. Mereka harus dapat menentukan mana yang baik dan mana yang tidak untuk diri mereka sendiri. Jika mereka tidak mau memulai untuk membaca dan menulis dan mereka terus menerus mengandalkan internet dari mana mereka akan maju???? Jadi para siswa maupun mahasiswa harus mau untuk mulai membaca maupun menyalurkan ide mereka melalui tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar