Rabu, 28 Desember 2016

Pentas teater GEMA

Pentas Jaka Tarub & Pentas Monolog Balada Sumarah

Pentas teater yang diadakan oleh Teater Gema Universitas PGRI Semarang pada Rabu, 4 Oktober 2016 season 1 pukul 15.00 WIB dan season 2 pukul 19.00 WIB menuai kesuksesan. Pentas Seni yang mengangkat judul  “Pentas Jaka Tarub & Pentas monolog Balada Sumarah” tersebut dapat menyedot banyak penonton untuk menuju gedung pusat lantai 7. Banyak mahasiswa yang datang karena memang penasaran dengan bagaimana drama yang akan dibawakan oleh Teater Gema tersebut. Tetapi banyak juga mahasiswa yang datang karena diwajibkan dosennya untuk memenuhi tugas. Bahkan acara pementasan drama tersebut  juga didatangi oleh siswa-siswi dari SMA Gesing.
Acara dibuka oleh dua orang pembawa acara untuk menyambut penonton yang sangat bersemangat untuk segera menyaksikan drama tentang Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan tersebut.  Sebelum pementasan Jaka Tarub dimaulai, kedua pembawa acara yang bernama Eko dan Joko melontarkan sedikit guyonan untuk penonton.
Pentas pertama  bercerita tentang seorang pemuda dari kampung yang bernama Jaka Tarub yang bermimpi mendapatkan istri seorang bidadari. Awalnya Jaka tidak mempercayai hal tersebut. tetapi pada suatu hari saat Jaka ingin mencari burung di hutan, Jaka sempat beristirahat pada sebuah batu besar. Saat Jaka sedang tidur dengan pulas tiba-tiba ia terbangun karena mendengan suara dari sungai. Saat Jaka ingin melihat apa yang sedang terjadi ia terkejut karena melihat 7 bidadari yang sedang mandi. tanpa pikir panjang Jaka langsung mencuri salah satu pakaian dari  bidadari tersebut, dan hasilnya bidadri yang pakaiannya dicuri oleh Jaka Tarub tidak dapat kembali lagi ke kayangan. Bidadari yang bernama Nawang Wulan membuat janji apabila ada yang membantunya jika perempuan akan dijadikannya saudara dan apabila laki-laki akan dijadikan seorang suami. Akhinya karena Jaka Tarub yang membantu Bidadari tersebut dengan memberikannya pakaian, Nawang Wulan menepati janjinya untuk menjadikan Jaka Tarub sebagai suaminya. Jaka dan Nawang pun hidup bahagia sampai mereka mempunyai seorang putri yang cantik. Tetapi pada suatu hari Nawang Wulan merasa sangat marah pada Jaka Tarub karena tidak mampu menjaga janjinya kepada Nawang Wulan, ditambah lagi karena Nawang menemukan selendang yang telah dicuri oleh Jaka Tarub. Karena kesalahannya tersebut Jaka Tarub akhirnya ditinggal sendiri oleh Nawang Wulan untuk kembali ke kayangan.                  
Pada pertengahan pentas drama Jaka Tarub, acara diselingi dengan pentas lawakan yang diperankan oleh dua orang yang bercerita tentang orang yang akan mencalonkan diri untuk menjadi seorang lurah. Kedua pelawak (saya menyebut pemainnya dengan pelawak) tersebut melakukan adu kecerdasan untuk melihat siapa yang paling kuat untuk menjadi seorang lurah.  Pada pentas selingan tersebut tidak hanya menampilkan sebuah lawakan tetapi didalamnya juga terdapat nasehat-nasehat untuk para penonton.
Pentas kedua menampilkan sebuah monolog Balada Sumarah yang menceritakan anak seorang PKI yang bernama Sumarah yang memilih menjadi TKW di Arab. Karena Sumarah ingin membersihkan namanya dari omongan orang yang buruk tentang PKI.  Sumarah yang bekerja menjadi babu di Arab diperlakukan tidak adil oleh sang majikan dengan memperkosa Sumarah.  Sumarah yang tidak terima dengan perbuatan majikannya tersebut marah dan akhirnya membunuh sang majikan. Karena perbuatan Sumarah yang membunuh majikannya akhirnya  Sumarah dihukum mati di Arab.
Menurut saya kedua pentas tersebut sangat bagus, dan pastinya sangat menghibur.  Tokoh Sumarah, pada monolog yang akan ditampilkan untuk perlombaan nasional tersebut sangat menghibur karena sang pemain yang sangat total dalam menjalankan perannya sebagai Sumarah dan tidak hanya sebagai Sumarah, karena pemain tersebut juga memainkan beberapa peran sekaligus. selain itu, para pemain lain juga sangat mampu menguasai peran yang diperankannya dengan sangat baik. Walaupun terdapat kejadian yaitu salah satu bidadari yang terpeleset saat akan menuruni tangga, namun kesalahan segera tertutupi saat para pemain lain mampu menutupi kesalahan tersebut dengan bertanya apakah ia baik-baik saja.  Menurut saya itulah kelebihan dari pementasan drama tersebut, karena para pemain dapat menjadikan sebuah kekurangan atau kesalah menjadi sebuah kelebihan.
Kekurangan pada acara tersebut yakni karena kurangnya persiapan oleh para panitia sehingga waktu pementasan  molor lebih dari setengah jam. karena hal tersebut banyak penonton yang sudah menunggu di depan pintu masuk menggerutu dan menyuruh panitia agar segera membuka pintu masuk.
Dengan diadakannya pentas tersebut diharapkan agar penonton dapat menerima pesan dari kedua pementasan tersebut. Yakni sesuatu yang diawalai dengan kebohongan walaupun itu manis namun akhirnya akan membawa kerugian untuk diri kita dan orang yang kita sayang.  Serta dapat menjadi referensi untuk para penonton yang menyaksikan  saat akan menampilkan sebuah  pementasan. Terlebih untuk para mahasiswa PBSI yang dalam waktu dekat ini akan mengikuti lomba pementasan drama komedi.

Menanggapi esai Pentas Jaka Tarub (Desy Wahyu RImadoni)


Esai “Pentas Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah” yang ditulis oleh Desy Wahyu Rimadoni sangat menarik. Tulisan yang membahas tentang drama pementasan  Jaka Tarub dan Balada Sumarah yang diadakan oleh Teater Gema tersebut sangat menarik untuk dibaca. Esai tersebut ditulis dengan singkat, padat, dan jelas. Maksudnya esai yang ditulisnya langsung to the point. Dengan begitu esai yang ditulis oleh Desy Whyu Rimadoni tersebut dapat dengan mudah dipahami oleh pembacanya, walaupun ada beberapa yang menurut saya kurang pas.                                                      
Pada tulisannya Desy Wahyu Rimadoni menuliskan “Pentas drama merupakan sebuah penggambaran kehidupan nyata yang di atur ulang agar tidak sama, namun terkadang drama digambarkan tidak seperti kehidupan aslinya. Tidak sama dalam drama maksudnya adalah cerita yang dibawakan bisa berubah baik itu sebagian maupun semuanya. Selain itu pementasan drama harus dapat benar-benar total dalam membawakan ceritanya.” Pada kutipan diatas saya agak tidak paham dengan “Pentas drama merupakan sebuah penggambaran kehidupan nyata yang di atur ulang agar tidak sama,..” apakan drama hanya digunakan untuk menggambarkan kehidupan nyata saja? Padahal pada drama terdapat dua versi yaitu fiksi (nyata) dan non fiksi (tidak nyata).                          
Drama fiksi merupakan drama yang dibuat berdasarkan rekaan saja. Pada drama fiksi ceritanya tergantung dengan imajinasi sang penulis. Sang penulis dapat membuat cerita sesuai dengan imajinasinya. Jadi semakin tinggi imajinasi sang penulis maka semakin bagus pula cerita yang ditulisakn. Sedangkan drama non fiksi adalah drama yang dibuat sesuai dengan kenyataan yang ada atau tidak berasal dari imajinasi sang penulis. Contoh drama non fiksi bisa berupa drama tentang kehidupan seseorang atau sebuah film dokumenter.
Drama Jaka Tarub sendiri merupakan drama dari sebuah dongeng rakyat nusantara yang berasal dari Magelang. Jadi bisa dikatakan jika drama Jaka Tarub merupakan drama fiksi. Yang ceritanya merupakan imajinasi dari sang penulis.  Karena pada cerita Jaka Tarub terdapat tokoh seorang bidadari. Dalam kehidupan nyata sendiri tidak akan dapat diterima nalar apabila ada bidadari yang turun ke bumi untuk mandi. Maka dapat dikatakan jika drama Jaka Tarub merupakan drama fiksi.
Desy Wahyu Rimadoni menuliskan “Setting atau pengaturan yang dibawakan dalam pentas drama ini mengandung unsur budaya jawa. Di sela-sela pementasan banyak diberi iringan musik tradisional. Layaknya memang benar-benar menggambarkan kehidupan masyarakat jawa pada zaman dahulu.” Pada tulisannya tersebut Desy menuliskan bahwa setting yang dibawakan dalam pentas drama mengandung unsur budaya Jawa. Akan tetapi pada esainya Desy hal tersebut dengan adanya iringan musik tradisional. Padahal pada pentas drama Jaka Tarub tersebut juga bisa dikatan mengandungunsur Jawa dilihat dari setting panggung yang menunjukkan keadaan desa yang masih asri dengan adanya rumah kecil yakni rumah Jaka Tarub, pepohonan di hutan, dan adanya sungai yang digunakan untuk mandi para bidadari. Unsur budaya juga dapat dilihat dari kostum yang digunakan oleh para pemain drama. Seperti teman Jaka Tarub yang mengenakan blangkon yang merupakan ciri khas orang Jawa sebagai penutup kepala. Contoh lain yaitu para bidadri yang menggunakan setelan seperti kebaya dan jarik yang juga merupakan ciri khas orang Jawa.
Pada esainya Desy Wahyu Rimadoni juga menuliskan pentas kedua acara Teater Gema yaitu monolog yang berjudul  “Balada Sumarah”. Pada tulisannya Desy menuliskan “ Pemeran monolog ini seorang wanita mahasiswa UPGRIS, dia mampu membawakan sebuah ceritanya dengan baik.” Saya tidak setuju dengan kalimat tersebut terutama pada bagian seorang wanita mahasiswa. Akan lebih baik dan lebih enak dibaca apabila kalimat tersebut diganti dengan ‘monolog diperankan oleh mahasiswi UPGRIS yang mampu membawakan perannya dengan baik’ kalimat tersebut lebih enak dibaca dan lebih mudah untuk dipahami dibangdingkan dengan kalimat pertama.
Saya juga tidak setuju dengan kalimat yang mengatakan jika hukum di Indonesia tidak adil. “Monolog ini menceritakan sebuah hukum di Indonesia yang tidak adil.” Padahal pada monolog tersebut menceritakan tentang seorang TKW di Arab yang menerima ketidak adilan dari sang majikan yakni selalu disiksa dan diperkosa. Sumarah yang tidak kuat dengan siksaan yang diberikan untuknya akhirnya marah dan dihukum karena membunuh majikannya. Jadi bukan hukum di Idonesia yang tidak adil, namun bisa dikatakan hukum di Indonesia yang tidak mampu untuk membantu warganya yang sedang tersandung masalah di negara lain. Di esainya Desy juga menuliskan jika pemeran Sumarah tersebut melakukan bunuh diri. Padahal saat itu tokoh Sumarah tidak melakukan bunuh diri. Tetapi ia menjalankan hukumannya dengan ditembak mati di Arab..

Surat untuk dosen tersayang

Selamat malam Bapak Setianaka dosen Penulisan Media Massa yang sangat istimewa.
Alhamdulillah kabar saya baik-baik saja, sehat selalu, dan ceria selalu. Saya  terkejut tiba-tiba Bapak memberi surat untuk saya. Saya bertanya-tanya apa sebenarnnya isi surat itu. Setelah saya membaca saya paham kenapa Bapak mengirim surat untuk saya. Kenapa Bapak tega meninggalkan pertemuan yang mulia tersebut? Apa Bapak tidak rindu dengan mahasiswa Bapak yang lucu-lucu ini? Oohh mungkin Bapak tidak rindu, saya tahu itu.
Saya membalas surat ini setelah saya pulang mengantarkan teman saya mencari kost. Sebenarnya saya sudah sangat lelah. Tetapi saya ingat dengan surat yang harus saya balas dari Bapak. Saya membalas surat ini dengan tidak terpaksa, karena saya membalasnya dengan posisi yang sangat nyaman dikamar kost saya.
Saya selalu bahagia kok pak, walau ada suatu hal yang membuat saya tidak bahagia saya akan tetap bahagia dan melupakan hal yang membuat saya tidak bahagia tersebut. Semoga kegiatan yang Bapak laksanakan di Jakarta tersebut berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir. Saya tahu kenapa pesawat yang Bapak tumpangi berangkat dari stasiun. Mungkin karena pesawat yang Bapak tumpangi itu sedang terjebak nostalgia dengan kereta hingga pesawat lupa harus kembali ke bandara untuk mengantar Bapak dan teman-teman Bapak menuju Jakarta. Aduhhh garing ya pak?? Maaf saya tidak pandai melawak pak. Tapi tolong bapak tersenyum sedikit saja agar saya merasa senang bisa membuat Bapak tersenyum.
Maaf sebelumnya pak, tapi saya tidak suka makan indomie. Saya lebih suka makan mi Sedap karena porsinya yang lebih besar. Saya tidak keberatan dengan kalimat pada surat Bapak, karena begini malah lebih santai. Saya tidak ingin meminum obat sakit kepala yang saya butuhkab saat ini adalah obat pegal linu karena saat ini kaki saya pegal sekali. maaf curhat pak.

Sebenarnya saya tidak terlalu senang karena pada pertemuan kemarin Bapak tidak masuk, karena saya sudah sangats emangat untuk mengikuti kuliah Bapak. Begini pak sebenarnya saya tidak malas membaca, saya sangat sering membaca. Saya sering membaca cerita online melalui telepon saya yaitu cerita fanfiction. Apakah Bapak tau fanfiction? Itu adalah cerita yang sangat disukui oleh remaja-remaja terlebih jika mereka menyukai korea, karena dalam fanfiction tokohnya adalah idola k-pop. Karena saya adalah k-popers jadi saya sangat menyukai fanfiction. Kenapa saya tidak suka membaca media masa seperti koran atau majalah ya karena saya tidak tertarik. Saya lebih suka membaca yang di dalamnya terdapat ceritanya. Seperti fanfiction tadi pak. Lalu kenapa saya tidak beryterus-terang untuk bicara karena saya masih belum berani untuk mengutaran apa pendapat saya. Saya masih takut salah dan masih takut untuk menerima dikritik dari orang lain. Itulah jawaban saya pak.
Saya pribadi tidak merasa dipaksakan jika Bapak menyuruh kita untuk mebeli koran, membaca koran, atau mengkliping koran, karena memang itulah tugas kita sebagai mahsiswa untuk lebih sering membaca. Alasan saya, ya karena tidak terbiasa untuk membaca koran. Bapak tidak perlu minta maaf. Saya tidak mengomel-ngomel saat membaca surat dari Bapak, karena saya membaca surat Bapak sambil mendengarkan musik. Ya saya membaca surat Bapak malah dengan bernyanyi. Saya tidak akan membanting piring pak, karena saya hanya mempunyai satu piring di kos jadi jika saya membantingnya akan eman-eman.
Saya akan menjwab surat Bapak dengan sangat personal nantinya, dalam amplop dan dengan segel pula. tetapi saya masih bingung akan menggunakan segel daun pisang atau uang mainan. Tapi saya mohon maaf Bapak, saya menerima surat Bapak tidak berada dalam amplop.
Sejujurnya saya masih tidak tahu bagaimana caranya untuk memahami diri saya sendiri. Karena saya mesih sering bingung dengan diri saya sendiri. Motivasi saya untuk tetap kuliah yaitu karena saya sangat ingin membanggakan kedua orang tua saya nantinya, karena mereka sudah sangat berusaha untuk bisa menyekolahkan saya sampai saat ini. Saya sangat berharap jika suatu saat nanti saya akan membalas apa yang sudah diberikan orang tua saya untuk saya dengan cara membuat mereka bangga dengan mempunyai anak seperti saya. Bapak tidak perlu melakukan hal-hal tersebut karena suatu saat nanti kita akan sadar bahwa kita salah. Tapi jika Bapak mau membawa permen aneka rasa untuk kami, kami akan menerima dengan lapang dada.
Jujur sampai saat ini saya belum pernah membaca buku satu pun dari awal sampai akhir karena kebiasaan saya yang buruk. Yaitu saya sering membaca buku samapai tengah-tengah saja, tidak pernah sampai akhir. Jika saya membaca buku-buku itu sampai akhir saya sudah banyak membaca judul buku. Saya juga tidak tahu kenapa saya sering melakukan hal tersebut, mungkin karena jika saya sedang membaca buku tetapi melihat judul buku lain yang menarik saya akan meniggalkan buku tersebut dan membaca buku baru tersebut.
Mungkin itu saja balasan surat dari saya pak, apabila ada kekurangan saya mohon maaf. Terima kasih pak dosenku.

UPGRIS BERSASTRA

UPGRIS Bersastra

UPGRIS bersastra baru saja digelar di Balairung Universitas PGRI Semarang pada Rabu, 19 Oktober 2016. Acara yang diadakan untuk memeriahkan bulan bahasa tersebut dihadiri oleh Rektor Universitas PGRI Semarang, Wakil Rektor 1 dan Wakil Rektor 2 Universitas PGRI Semarang serta para dosen dan mahasiswa khususnya mahasiswa FPBS. Acara yang sangat meriah tersebut bertajuk 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, 1 pengarang.
Triyanto adalah sastrawan yang dipilih untuk dibedah karyanya pada UPGRIS bersastra siang itu. Triyanto merupakan salah satu penulis yang terkenal di kalangan para sastrawan. “Sudah Susah”, “Anak-anak Pengasah Pisau” dan “Kematian Kecil” merupakan beberapa karya dari Triyanto.
Tiga kritikus didatangkan untuk membedah karya dari Triyanto tersebut, yakni  Nur Hidayat, Prasetyo Utomo, serta Widya  Wari Eko. Salah satu pembaca karya Triyanto adalah rektor Universitas PGRI Semarang yang membacakan puisi dengan sangat mengagumkan. Sebelum sang rektor membacakan puisi terlebih daahulu rektor membawakan sebuah lagu dengan bermain getar dengan sangat mengagumkn pula. Puisi kedua dibacakan oleh wakil rektor Ibu Suci dengan diselingi tembang jawa yang dibawakan oleh mahasiswi PBI. Ibu Suci membacakan puisi dan mahasiswa mengiringi dengan tembang macapat yang lirih.
Acara dibuka dibuka dengan penampilan dari Biscuit Time dengan membawakan musikalisasi puisi yang dapat menghipnotis penonton. Pada acara tersebut juga mempersembahkan sebuah teatrikal yang dibawakan oles salah satu dosen Universitas PGRI Semarang dan 4 penari yang membawakan puisi “sawah” dari Triyanto.
Acara inti bedah buku pada siang itu dipimpin oleh Bapak Harjito yang notabenya juga seorang yang gemar menulis juga. Setelah ketiga karya Triyanto dibacakan giliran ketiga kritikus untuk menyampaikan pendapatnya tentang tulisan Triyanto. Kritikus pertama Nur Hidayat mengatakan jika Triyanto menulis karya sastra tetapi tidak di baca oleh orang lain itu tidak masalah. Namun dia dapat membuktikan kualitasnya.kritikus kedua Prasetyo Utomo mengatakan bahwa cerpen yang ditulis oleh Triyanto setiap tahunnya masuk dalam koran kompas. Selain itu cerpen Triyanto ada juga yang sulit untuk dipahami seperti pada Teori Struktuslisme, cerpen serupa dengan islami yang memiliki tiga unsur yaitu Tok, Latar, Alur. Kritikus terakhir Widya Wri Eko menyampaikan pendapatnya dengan memamerkan beberapa karangan Triyanto yang sukses yaitu “Sudah Susah”, “Anak-anak Pengasah Pisau”, dan “Kematian Keci”.
Dengan adanya UPGRIS Bersastra tersebut semoga dapat memberi motivasi kepada para mahasiswa agar mau untuk mengeluarkan idenya dengan menulis dan mau membaca karya-karya sastra untuk menambah wawasan. Karena seperti yang kita ketahui minat membaca bagi para siswa maupun mahasiswa saat ini sangat kurang. Mungkin hanya ada beberapa anak di dalam satu kelas yang mempunyai hobi membaca. Banyak siswa atau mahasiswa yang beranggapan bahwa membaca tidak terlalu penting, karena tidak banyak memberi pengaruh untuk mereka. Saat ini banyak siswa atau mahasiswa yang lebih meimlih untuk menggunakan gadget mereka untuk browsing daripada membaca buku, karena menganggap hal tersebut lebih mudah dan cepat daripada harus membeli atau meminjam biku di perpustakaan.
Saat ini banyak siswa maupun mahasiswa yang lebih suka menulis caption di instagram atau status di facebooknya, daripada harus menyalurkan idenya lewat tulisan melalui karya sastra tersebut. Banyak mahasiswa yang saat ini yang masih malas untuk berpiki, mereka lebih suka mencari kata-kata dari internet dari pada harus menyalurkan kata-katanya sendiri melalui tulisan.
Seperti yang dikatakan Triyanto jika Jalan kesusastraan bukan jalan mewah. Kita semua harus berlomba - lomba untuk menulis kebaikan manusia. Jadi mereka bisa dikatakan jika setiap kali kita mepunyai ide harus segera kita keluarkan dengan kata-kata untuk dijadikan menjadi sebuah karya sastra. Kita juga dapat menuliskan, menceritakan semua hal yang telah kita alami maupun yang telah dialami orang lain. Selain bisa menjadi sebuah karya sastra yang baik dan  dapat dibaca oleh banyak orang tulisan kita juga bisa menjadi alat untuk mendokumentasikan cerita setiap orang.
Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan kesadaran diri dari siswa maupun mahasiswa itu sendiri. Mereka harus dapat menentukan mana yang baik dan mana yang tidak untuk diri mereka sendiri. Jika mereka tidak mau memulai untuk membaca dan menulis dan mereka terus menerus mengandalkan internet dari mana mereka akan maju???? Jadi para siswa maupun mahasiswa harus mau untuk mulai membaca maupun menyalurkan ide mereka melalui tulisan.

Selasa, 27 Desember 2016

ketiadaan UN
Saya tidak sependapat dengan Setia Naka Adrian karena akan tidak sangat adil apabila suatu kelulusan berdasarkan dengan UN karena akan ada suatu situasi yang tidak bagi para siswa. Contohnya apabila murid tersebut pandai namun saat UN dilaksanakan siswa tersebut malah adabsuatu kendala aeperti tidak enak badan misalnya. Maka anak tersebut tidak akan dapat maksimal untuk mengerjakan UN. Contoh lainnya apabila ada anak yang mendapat kunci jawaban dan ada yang tidak maka akan sangat tidak adil apabila anak yang tidak mendapat kunci tidak lulus. Menurut saya lebih baik untuk diadakannya evaluasi atau semacamnya untuk mengukur pengetahuan siswa tersebut tentang pelajaran. Dan itu harus mencakup semua mata pelajaran, tidak hanya pelajaran yang inti-inti saja seperti matematika, Bahasa Indonesia, dll. Karena apabila hanya mata pelajaran tertentu saja maka siswa akan fokus untuk pelajaran itu saja dan mengabaikan mata pelajaran lain. Mungkin itu saja pendapat saya, terima kasih
(Rohmatul Hidayah 3E)