Kamis, 20 September 2018

Naskah Teks Drama Panggung


Setelah sebeblumnya saya membuat naskah teks drama radio selanjutnya saya membuat naskah teks drama panggung guys..

Teman atau Hutang?
(by: Rohmatul Hidayah)

(Suara kicau Burung Perkutut, sorot lampu warna kuning)
Pagi itu Yusuf yang sedang bersantai di teras rumahnya tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan salah seorang temannya yaitu Samsudin yang datang dengan muka masamnya. Yusuf yang sedang bersantai sambil menyesap kopi hitamnya lalu meletakkan cangkir kopinya di meja di samping kursi dan langsung menghampiri temannya itu.
                Yusuf                     : “Kenapa pagi-pagi mukamu sudah seperti cucian kusut seperti itu?”
Samsudin             : “Aku bingung suf, aku sedang butuh uang. Kapan kamu akan membayar                hutangmu padaku?” (sedikit membentak)
Yusuf                     : “ Hutang? Duduklah dulu sambil minum kopi bersamaku.” (sambil                            menutunYusuf menuju kursi)

      Samsudin yang saat itu sedang bingung menurut saja ketika Yusuf menuntunnya. Setelah menuntun temannya untuk duduk yusuf langsung masuk ke dalam rumah membuatkan kopi untuk Samsudin.
      (Memberikan secangkir Kopi untuk Samsudin)
                Yusuf                     : “Sebenarnya apa masalahmu? Sehingga kamu sangat kebingungan seperti ini?”
                Samsudin            : “Aku sedang butuh uang, Anakku Misri sedang opname di rumah sakit.”
                Yusuf                     : “Bukankah kemarin Misri beramin di lapangan bersama Samsuri? Kenapa                               tiba-tiba di rumah sakit?”
                Samsudin            : “ Tadi malam dia demam tinggi, lalu aku dan Leni langsung membawanya                            ke rumah sakit untuk diperiksa, tapi dokter malah bilang jika Misri harus                       opname di rumah sakit. Leni juga mengandung lima bulan dan                                                               membutuhkan biaya yang besar.”
                Yusuf                     : “Tapi bagaimana? Aku juga tidak punya uang untuk membayar hutangku                              padamu din.” (Memegang kepala sambil berikir)
                Samsudin            : “Bukankah istrimu sedang bekerja di Hongkong? Cobalah minta dia untuk                             mengirimkan uang untukmu.”
                Yusuf                     : “ Tidak bisa, baru minggu lalu aku minta kiriman uang darinya.”
                Samsudin            : “ Minggu lalu? Dan sekarang kamu bilang tidak punya uang? Berhentilah                                untuk membuang-buang uangmu untuk hal-hal yang tidak berguna itu.”                                  (Nada mementak dan muka marah)
                Yusuf                     : “Memang itu tidak berguna, tapi mau bagaimana? Itu sudah menjadi                                      kebiasaanku aku tidak bisa menghentikannya.”
                Samsudin            : “ mabuk, mabuk, dan mabuk. Hanya itu yang bisa kamu lakukan. Cobalah                              mencari perkerjaan agar kamu bisa menghasilkan uang untuk membayar                                hutangmu padaku.”
                Yusuf                     : “ Tidak bisa, pokoknya aku tidak bisa membayar hutangku padamu                                         sekarang.”
                Samsudin            : “ Anakku sedang dirawat di rumah sakit dan Leni harus memeriksakan                                                    kandungannya.” (Muka memohon)
                Yusuf                     : “Aku tidak peduli. Pokoknya aku tidak bisa membayar hutangku sekarang.”                        (masuk ke dalam rumah meninggalkan Samsudin.)
      Demikianlah Yusuf yang tidak mau membayar hutang pada Samsudin. Padahal Misri anaknya sedang opname karena DBD. Tidak hanya itu, Leni sedang mengandung lima bulan dan butuh biaya besar.
                                                                                                ***
      (Suara jangkrik, lampu remang remang)      
      Malam itu Yusuf yang berada di depan rumahnya termenung sambil menyandarkan kepalanya di dinding rumahnya. Hanya suara jangkrik dan secangkir kopi hitam yang menemaninya malam itu.

‘‘Kasihan juga Samsudin, anaknya sedang di rumah sakit dan istrinya juga sedang hamil besar. Tapi bagaimana? Aku juga tidak punya uang untuk membayar hutangku. Apa yang harus aku lakukan agar bisa menolong temanku itu?’’ (menggaruk-garuk kepala).

      Tiba-tiba terbesit sebuah pikiran yang menurut Yusuf dapat membantunya untuk membayar hutangnya pada Samsudin. Ia pun segera bergegas masuk ke rumah untuk mengambil sepedanya.
                Yusuf     : “Gus.. Agus Assalamualaikum gus tolong keluarlah sebentar” (Nada tergesa-gesa)
                Agus      : “Kenapa malam-malam kau membuat keributan di rumahku? Ada apa kau                           mencariku? Duduklah dulu”
                Yusuf     : “Tidak usah, aku tidak akan lama-lama di rumahmu.”
                Agus      : “Lalu ada apa kamu mencariku?”
                Yusuf     : “ Aku sedang butuh uang, aku ingin meminjam uangmu”
                Agus      : “Untuk apa kamu meminjam uang? Untuk mabuk-mabukan? Wahh kau ini sampai           berhutang untuk mabuk-mabukan.”
                Yusuf     : “Itu bukan urusanmu, cepat sekarang pinjamkan aku uang. Aku butuh dua juta.”                                   (Sambil membentak Agus)
                Agus      : ”Wahh banyak sekali, apa kamu nanti bisa membayarnya?”
                Yusuf     : “Tenang saja aku pasti akan membayarnya. Sekarang cepat ambil uangnya.”
      Agus  masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan Yusuf uang. Yusuf tanpa berterima kasih pada Agus langsung pergi dengan sepedanya meninggalkan Agus tanpa mengucapkan sepatah kata bahkan terima kasih.
***
      Malam itu Agus langsung motorya menuju ke sebuah gubug kecil yang berada di dekat sawah . Dia dikenal sebagai raja judi di kampungnya. Hampir tak pernah sekalipun ia kalah dalam bermain judi. Dari dalam gubug kecil itu terdengar teriakan girang salah satu orang karena sudah memenangkan permain.

            Agus                : “Wah wah apa yang aku lihat ini benar-benar Yusuf, jadi kamu                              pinjam uang dariku untuk bermain judi. Memannya kamu bisa                                  bermain judi?” (Nada kaget)
            Darwan           : “Jangan salah kamu bos dia sudah dua kali menang”
            Agus                : “ Benarkah? Hebat sekali kamu Suf. Ayo bermain denganku apa                               kamu bisa mengalahkanku.” (menantang Yusuf)
            Yusuf               : “Siapa takut, ayo aku akan mengalahkanmu.”

     Setelah memainkan empat putaran permainan judi, akhirnya Yusuf memenangkan tiga putaran dari permainan tersebut. Agus pun merasa malu karena telah dikalahkan oleh Yusuf yang sebelumnya tidak pernah bermain judi.
            Agus                : “ Hebat juga kau suf bisa mengalahkanku, pakai jimat apa kamu?”
            Darwan           : “ Benar sekali kamu bisa mengalahkan bos Agus sang raja judi.”
            Yusuf               : “ Ahh tidak tidak, ini semua kebetulan karena aku sedang sangat                                         butuh uang.”
            Darwan           : “ Apa sang raja judi akan berganti? hahaha”
            Yusuf               : “ Eehh tidak tidak, aku tidak akan bermain judi lagi. Aku bermain judi                     karena aku sedang butuh uang untuk si Samsudin.”
            Agus                : “ Memangnya kenapa si Samsudin? Setauku kehamilan istrinya                               belum terlalu tua.”
            Yusuf               : “  Anaknya sedang sakit DBD dan sedang dirawat di rumah sakit.                           Yasudah aku pulang dulu. Aku akan segera membayar hutangku                              padamu gus.”
                                                                        ***
     (lampu terang. Yusuf memijat lengan istrinya.)
      yusuf dan istrinya masih bingung harus membayar biaya rumah sakit Misri. Sebenarnya Samsuri mempunyai sedikit tabungan. Tetapi tabungan itu akan dia gunakan untuk biaya persalinan istrinya nanti. Uangnya yang dipinjam oleh Yusuf sahabatnya juga tidak bisa ia ambil karena Yusuf yang tidak punya uang juga.
            Leni                 : “Sebelah sini sangat pegal, kemarin au mencuci baju banyak sekali.”                                 (menunjuk lengan dekat siku.)
                        Samsuri           : “ Bukankah sudah kubilang untuk tidak bekerja lagi? Tidak usah                             mencuci baju orang lagi?”
            Leni                 : “Tapi mau bagaimana lagi? Itu satu-satunya cara agar kita bisa                             membayar biaya rumah sakit Misri.”
            Samsuri           : “Tadi malam aku sudah menelpon Sari istrinya Yusuf, aku bilang jika                     suaminya punya hutang denganku dan aku sangat membutuhkan                 uang itu sekarang.”
            Leni                 : “Lalu apa yang dikatakan Sari? Apa dia mau mengirimkan uang                                     untukmembayar hutang suaminya?” (nada pensaran.)
            Samsuri           : “Aku tidak tahu, dia berkata jika dia akan meminjam uang pada                             majikannya da akan mengirimkan uang itu jika majikannya mau                              meminjamkannya.”
            Leni                 : “Alhamdulillah semoga ,ajikannya si Siti mau meminjamkan                                uangnya.”

     Tiba-tiba diujung lorong terlihat Yusuf yang sedang melangkah pasti sambil membawa plastik-plastik yang berisi buah-buahan untuk Misri.
            Yusuf               : “ Aku sudah bisa membayar hutangku padamu din. Ini uang untuk                          membayar hutangku padamu.” (memberikan bungkusan plastik dan                         uang)
            Samsudin         : “Kamu bilang kemarin kamu tidak mempunyai uang untuk                                       membayar hutangmu.”
            Yusuf               : “ Itu kan kemarin. Sekarang aku sudah punya uang untuk                                         membayarnya.” (tersenyum lebar.)
            Samsudin         : “ Dapat uang darimana kamu? Bekerja saja tidak. Apa kamu                                   berhutang pada orang lain untuk membayar hutang padaku?” (nada                       sedikit tinggi.)
            Yusuf               : “Sebenarnya aku meminjam uang pada Agus dan aku habis menang                     main judi tadi malam.”
            Samsudin         : “ Judi?? Kamu sudah berani bermain judi? Kebiasaanmu yang suka                        mabuk-mabukan tidak kamu hilangkan malah sudah berani main                             judi?” (nada kaget dan marah.)
            Yusuf               : “Aku melakukan ini karena terpaksa, aku tidak enak denganmu.”
            Samsudin         : “ Tidak usah repot-repot main judi hanya untuk melunasi hutangmu                       padaku. Aku juga tidak mau jika biaya rumah sakit anakku berasah                           dari uang haram. Sekarang lebih baik kembalikan uang itu pada                                    Agus.”
            Yusuf               : “ Tapi bagaimana biaya rumah sakit anakmu?” (memaksa Samsudin                                 menerima uang)
            Samsudin         : “ Aku bisa pinjam uang di Bank untuk membayarnya.”
     (suara telepon)
     Kring-kring telepon leni berdering. Leni pun segera mengangkat telepon itu  takut jika ada hal penting yang harus diketahui. Setelah berbica beberapa menit dengan orang yang menelopnnya tadi Leni menghampiri suaminya dan Yusuf yang sekarang sudah berada di dalam ruang rawat Misri.
            Samsuri           : “ Siapa yang menelponmu?”
            Leni                 : “ Siti menelpon dan dia berkata sudah mengirimkan uang untuk kita                    mas.” (nada senang, memeluk suaminya.)
            Samsuri           : “ Alhamdulillah...”
            Yusuf               : “ Siti?? Apa itu Siti istriku? Kamu bilang ada istriku jika aku berhutang                    padamu?”
            Samsuri           : “ Maafkan aku suf, hanya itu yang bisa aku lakukan.”
            Yusuf               : “ Llau apa yang dikatakan istriku? Apa dia marah padaku?”
            Leni                 : “ Dia bilang jika kamu tdak berhenti mabuk-mabukan dia tidak akan                      mau pulang lagi ke Indonesia.”
            Yusuf               : “ Apa?? Benarkah? Kalau begitu aku pulang dulu.” (berlari                                     meninggalkan Samsudin dan Leni.)
     Tanpa menunggu lama Yusuf langsung menuju konter untuk membeli pulsa karena dia ingin menelpon istrinya dan membujuknya agar mau oulang ke Indonesia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar