Setelah sebeblumnya saya membuat naskah teks drama radio selanjutnya saya membuat naskah teks drama panggung guys..
Teman atau Hutang?
(by: Rohmatul Hidayah)
(Suara kicau Burung Perkutut, sorot lampu warna kuning)
Pagi itu Yusuf yang sedang
bersantai di teras rumahnya tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan salah
seorang temannya yaitu Samsudin yang datang dengan muka masamnya. Yusuf yang
sedang bersantai sambil menyesap kopi hitamnya lalu meletakkan cangkir kopinya
di meja di samping kursi dan langsung menghampiri temannya itu.
Yusuf : “Kenapa pagi-pagi mukamu
sudah seperti cucian kusut seperti itu?”
Samsudin : “Aku
bingung suf, aku sedang butuh uang. Kapan kamu akan membayar hutangmu padaku?” (sedikit membentak)
Yusuf : “ Hutang?
Duduklah dulu sambil minum kopi bersamaku.” (sambil
menutunYusuf menuju kursi)
Samsudin
yang saat itu sedang bingung menurut saja ketika Yusuf menuntunnya. Setelah menuntun
temannya untuk duduk yusuf langsung masuk ke dalam rumah membuatkan kopi untuk
Samsudin.
(Memberikan secangkir Kopi untuk Samsudin)
Yusuf : “Sebenarnya apa
masalahmu? Sehingga kamu sangat kebingungan seperti ini?”
Samsudin : “Aku sedang butuh uang, Anakku
Misri sedang opname di rumah sakit.”
Yusuf : “Bukankah kemarin Misri beramin
di lapangan bersama Samsuri? Kenapa tiba-tiba di rumah sakit?”
Samsudin : “ Tadi malam dia demam tinggi,
lalu aku dan Leni langsung membawanya
ke rumah sakit untuk diperiksa, tapi
dokter malah bilang jika Misri harus
opname di rumah sakit. Leni juga
mengandung lima bulan dan membutuhkan biaya yang besar.”
Yusuf : “Tapi bagaimana? Aku juga
tidak punya uang untuk membayar hutangku padamu
din.” (Memegang kepala sambil berikir)
Samsudin : “Bukankah istrimu sedang bekerja
di Hongkong? Cobalah minta dia untuk mengirimkan uang untukmu.”
Yusuf : “ Tidak bisa, baru minggu
lalu aku minta kiriman uang darinya.”
Samsudin : “ Minggu lalu? Dan sekarang kamu
bilang tidak punya uang? Berhentilah untuk
membuang-buang uangmu untuk hal-hal yang tidak berguna itu.” (Nada
mementak dan muka marah)
Yusuf : “Memang itu tidak berguna,
tapi mau bagaimana? Itu sudah menjadi kebiasaanku aku tidak bisa menghentikannya.”
Samsudin : “ mabuk, mabuk, dan mabuk. Hanya
itu yang bisa kamu lakukan. Cobalah mencari perkerjaan agar kamu bisa menghasilkan
uang untuk membayar hutangmu padaku.”
Yusuf : “ Tidak bisa, pokoknya
aku tidak bisa membayar hutangku padamu sekarang.”
Samsudin : “ Anakku sedang dirawat di rumah
sakit dan Leni harus memeriksakan kandungannya.” (Muka memohon)
Yusuf : “Aku tidak peduli. Pokoknya
aku tidak bisa membayar hutangku sekarang.” (masuk
ke dalam rumah meninggalkan Samsudin.)
Demikianlah
Yusuf yang tidak mau membayar hutang pada Samsudin. Padahal Misri anaknya
sedang opname karena DBD. Tidak hanya itu, Leni sedang mengandung lima bulan
dan butuh biaya besar.
***
(Suara jangkrik, lampu remang remang)
Malam
itu Yusuf yang berada di depan rumahnya termenung sambil menyandarkan kepalanya
di dinding rumahnya. Hanya suara jangkrik dan secangkir kopi hitam yang
menemaninya malam itu.
‘‘Kasihan juga Samsudin, anaknya sedang di rumah sakit dan istrinya juga
sedang hamil besar. Tapi bagaimana? Aku juga tidak punya uang untuk membayar
hutangku. Apa yang harus aku lakukan agar bisa menolong temanku itu?’’
(menggaruk-garuk kepala).
Tiba-tiba
terbesit sebuah pikiran yang menurut Yusuf dapat membantunya untuk membayar
hutangnya pada Samsudin. Ia pun segera bergegas masuk ke rumah untuk mengambil
sepedanya.
Yusuf : “Gus.. Agus Assalamualaikum gus tolong
keluarlah sebentar” (Nada tergesa-gesa)
Agus : “Kenapa malam-malam kau membuat
keributan di rumahku? Ada apa kau mencariku? Duduklah dulu”
Yusuf : “Tidak usah, aku tidak akan lama-lama di
rumahmu.”
Agus : “Lalu ada apa kamu mencariku?”
Yusuf : “ Aku sedang butuh uang, aku ingin
meminjam uangmu”
Agus : “Untuk apa kamu meminjam uang? Untuk
mabuk-mabukan? Wahh kau ini sampai berhutang untuk mabuk-mabukan.”
Yusuf : “Itu bukan urusanmu, cepat sekarang
pinjamkan aku uang. Aku butuh dua juta.” (Sambil membentak Agus)
Agus : ”Wahh banyak sekali, apa kamu nanti bisa
membayarnya?”
Yusuf : “Tenang saja aku pasti akan membayarnya.
Sekarang cepat ambil uangnya.”
Agus
masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan
Yusuf uang. Yusuf tanpa berterima kasih pada Agus langsung pergi dengan
sepedanya meninggalkan Agus tanpa mengucapkan sepatah kata bahkan terima kasih.
***
Malam
itu Agus langsung motorya menuju ke sebuah gubug kecil yang berada di dekat
sawah . Dia dikenal sebagai raja judi di kampungnya. Hampir tak pernah sekalipun
ia kalah dalam bermain judi. Dari dalam gubug kecil itu terdengar teriakan
girang salah satu orang karena sudah memenangkan permain.
Agus :
“Wah wah apa yang aku lihat ini benar-benar Yusuf, jadi kamu pinjam uang dariku untuk bermain judi.
Memannya kamu bisa bermain judi?” (Nada kaget)
Darwan : “Jangan salah kamu bos dia sudah
dua kali menang”
Agus : “ Benarkah? Hebat sekali kamu
Suf. Ayo bermain denganku apa kamu
bisa mengalahkanku.” (menantang Yusuf)
Yusuf : “Siapa takut, ayo aku akan
mengalahkanmu.”
Setelah
memainkan empat putaran permainan judi, akhirnya Yusuf memenangkan tiga putaran
dari permainan tersebut. Agus pun merasa malu karena telah dikalahkan oleh
Yusuf yang sebelumnya tidak pernah bermain judi.
Agus : “ Hebat juga kau suf bisa
mengalahkanku, pakai jimat apa kamu?”
Darwan : “ Benar sekali kamu bisa
mengalahkan bos Agus sang raja judi.”
Yusuf : “ Ahh tidak tidak, ini semua
kebetulan karena aku sedang sangat butuh uang.”
Darwan : “ Apa sang raja judi akan berganti?
hahaha”
Yusuf : “ Eehh tidak tidak, aku tidak
akan bermain judi lagi. Aku bermain judi karena aku sedang butuh uang untuk si
Samsudin.”
Agus : “ Memangnya kenapa si
Samsudin? Setauku kehamilan istrinya belum terlalu tua.”
Yusuf : “ Anaknya sedang sakit DBD dan sedang dirawat
di rumah sakit. Yasudah aku pulang dulu. Aku akan segera
membayar hutangku padamu gus.”
***
(lampu terang. Yusuf memijat lengan
istrinya.)
yusuf dan istrinya masih bingung harus
membayar biaya rumah sakit Misri. Sebenarnya Samsuri mempunyai sedikit
tabungan. Tetapi tabungan itu akan dia gunakan untuk biaya persalinan istrinya
nanti. Uangnya yang dipinjam oleh Yusuf sahabatnya juga tidak bisa ia ambil
karena Yusuf yang tidak punya uang juga.
Leni : “Sebelah sini sangat pegal,
kemarin au mencuci baju banyak sekali.” (menunjuk
lengan dekat siku.)
Samsuri : “ Bukankah sudah kubilang untuk tidak
bekerja lagi? Tidak usah mencuci baju orang lagi?”
Leni : “Tapi mau bagaimana lagi? Itu
satu-satunya cara agar kita bisa membayar biaya rumah sakit Misri.”
Samsuri : “Tadi malam aku sudah menelpon Sari
istrinya Yusuf, aku bilang jika
suaminya punya hutang denganku dan aku sangat
membutuhkan uang itu sekarang.”
Leni : “Lalu apa yang dikatakan
Sari? Apa dia mau mengirimkan uang untukmembayar
hutang suaminya?” (nada pensaran.)
Samsuri : “Aku tidak tahu, dia berkata jika
dia akan meminjam uang pada majikannya da akan mengirimkan uang itu jika
majikannya mau meminjamkannya.”
Leni : “Alhamdulillah semoga
,ajikannya si Siti mau meminjamkan uangnya.”
Tiba-tiba
diujung lorong terlihat Yusuf yang sedang melangkah pasti sambil membawa
plastik-plastik yang berisi buah-buahan untuk Misri.
Yusuf : “ Aku sudah bisa membayar
hutangku padamu din. Ini uang untuk membayar hutangku padamu.” (memberikan bungkusan plastik dan uang)
Samsudin : “Kamu bilang kemarin kamu tidak
mempunyai uang untuk membayar hutangmu.”
Yusuf : “ Itu kan kemarin. Sekarang aku
sudah punya uang untuk membayarnya.” (tersenyum lebar.)
Samsudin : “ Dapat uang darimana kamu? Bekerja
saja tidak. Apa kamu berhutang pada orang lain untuk membayar
hutang padaku?” (nada sedikit tinggi.)
Yusuf : “Sebenarnya aku meminjam uang
pada Agus dan aku habis menang
main judi tadi malam.”
Samsudin : “ Judi?? Kamu sudah berani bermain
judi? Kebiasaanmu yang suka mabuk-mabukan tidak kamu hilangkan malah
sudah berani main judi?” (nada
kaget dan marah.)
Yusuf : “Aku melakukan ini karena
terpaksa, aku tidak enak denganmu.”
Samsudin : “ Tidak usah repot-repot main judi
hanya untuk melunasi hutangmu padaku. Aku juga tidak mau jika biaya rumah
sakit anakku berasah dari
uang haram. Sekarang lebih baik kembalikan uang itu pada Agus.”
Yusuf : “ Tapi bagaimana biaya rumah
sakit anakmu?” (memaksa Samsudin menerima uang)
Samsudin : “ Aku bisa pinjam uang di Bank untuk
membayarnya.”
(suara telepon)
Kring-kring telepon leni berdering. Leni
pun segera mengangkat telepon itu takut
jika ada hal penting yang harus diketahui. Setelah berbica beberapa menit
dengan orang yang menelopnnya tadi Leni menghampiri suaminya dan Yusuf yang
sekarang sudah berada di dalam ruang rawat Misri.
Samsuri : “ Siapa yang menelponmu?”
Leni : “ Siti menelpon dan dia
berkata sudah mengirimkan uang untuk kita
mas.” (nada senang, memeluk suaminya.)
Samsuri : “ Alhamdulillah...”
Yusuf : “ Siti?? Apa itu Siti istriku?
Kamu bilang ada istriku jika aku berhutang padamu?”
Samsuri : “ Maafkan aku suf, hanya itu yang
bisa aku lakukan.”
Yusuf : “ Llau apa yang dikatakan istriku?
Apa dia marah padaku?”
Leni : “ Dia bilang jika kamu tdak
berhenti mabuk-mabukan dia tidak akan mau
pulang lagi ke Indonesia.”
Yusuf : “ Apa?? Benarkah? Kalau begitu
aku pulang dulu.” (berlari meninggalkan Samsudin dan Leni.)
Tanpa
menunggu lama Yusuf langsung menuju konter untuk membeli pulsa karena dia ingin
menelpon istrinya dan membujuknya agar mau oulang ke Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar